Ayam Petarung Adujudi | Sabung Ayam : Adat Atau Judi?

Ayam Petarung Adujudi | Sabung Ayam : Adat Atau Judi?

Sabung Ayam : Adat Atau Judi?

AYAM PETARUNG ADUJUDI = Kota Lama, Semarang (04/01/2016),  Suasana terik tidak menciptakan kami gentar buat menyusuri Kota Lama yg populer dgn tidak sedikit peristiwa. Gedung-gedung putih yg tidak terurus & ialah peninggalan Belanda itu menyisakan tidak sedikit narasi & budaya. Salah satunya di sisi jalan dekat Gereja Blenduk nampak ramai bersama dulu lalang orang yg sebahagian akbar berjenis kelamin pria.

Awalnya kami ragu-ragu buat mendatangi kerumunan itu. Tapi sesudah berjumpa dgn Muhyan (50) satu orang Pegawai parkir, keragu-raguan kami menghilang. Nyatanya keramaian di sana sebabbeberapa orang yg tengah melestarikan budaya Ciung Wanara (sabung ayam).

Budaya Ciung Wanara ini bermula dari satu buah legenda di Kerajaan Galuh. Meskipun kebudayaan ini bukan berasal dari Semarang tetapi kebiasaan ini tetap berjalan sampai sekarang. Muhyan (50)menjelaskan bahwa adu ayam ini tidak hanya utk melestarikan budaya pun ialah hobi yg dapat menyegarkan pikiran sesudah penat bekerja seminggu penuh. Sehingga tidak heran bila tiap-tiap hri Pekan yakni hri yg paling ramai dikunjungi pemain & pun penonton juga bakul, dimulai dari pagi hri sampai jam lima sore. Umumnya ketika paling ramai ialah dikala jam sebelas siang.

Penonton takcuma dari Kota Semarang saja namun pun tidak sedikit dari kota lain di Jawa Tengah.

Utk kriteria ayam yg tidak jarang diadu, Kristianto (34), satu orang bakul ayam menyampaikan bahwa ayam jago merupakan ayam yg paling digemari oleh pemain. Harga ayam berkisar antara Rupiah 1.000.000 – Rupiah 3.000.000. Harga ayam bakal lebih tinggi kalau ayam tersebut senantiasa menang. Kristianto memaparkan bahwa dia sanggup jual 20-25 ekor ayam dalam sehari. Ini membuktikan bahwa antusiasme penduduk pada sabung ayam relatif tinggi.

Haryono (61) penonton, mengemukakan bahwa beliau ikut menyaksikan sabung ayam ini sebab hobi. Tidak Sedikit orang mengira bahwa Ciung Wanara ini seperti judi & diliat sebelah mata. Tuturnyaayam ditandingkan di sini cuma buat percobaan saja & buat menyalurkan hobi, bukan utk judi.

Saat kami mencari berita lebih lanjut, tidak sedikit narasumber yg malas memberikan kabar. Bahkan disaat kami mewawancarai Kristianto, Lelaki be bicara “Ini nggak diekspos kan?” berlainan bersamapemaparan yg diuraikan Muhyan (50), “Sekarang ini tidak sedikit kebudayaan kita yg dianggap seperti bagaimanakah, padahal budaya itu mesti dilestarikan, kayak di jabar adu domba. Itu mereka dilindungi, menjadi itu tergantung lingkungan.

Lantaran disini tak mengganggu sehingga tak sempat ada polisi yg datang”.
Dari dua pemaparan berkaitan sabung ayam ini sehingga kami kembalikan lagi kepada pembaca. Apakah sabung ayam ini memang lah satu buah kebiasaan turun-temurun atau jadi suatu arenaperjudian?***